SUYANTO | PULANG PISAU | KALTENG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau kian hari bukannya mereda, justru terasa semakin parah dan menyebar ke berbagai wilayah. Asap mengepung, kualitas udara tercemar, sementara masyarakat kembali harus berhadapan dengan ancaman kesehatan dan aktivitas yang terganggu.
Dibincangi Media ini, Rabu (30/09/2026), seorang warga yang akrab disapa Romi, menanyakan mengapa titik api terus bertambah dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya?. Jika kebakaran terjadi sesekali, mungkin masih bisa disebut sebagai bencana yang sulit dikendalikan.
“Namun ketika titik api terus muncul di berbagai tempat, tentu kami berhak mempertanyakan apakah seluruhnya murni faktor alam atau ada tangan manusia di baliknya,” tegasnya.
Lebih jauh lagi, lanjut ia, jika memang terdapat unsur kesengajaan, siapa yang bermain dan siapa yang harus bertanggung jawab?. Apalagi, di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat belum melihat gebrakan penyelidikan yang benar-benar mampu menjawab pertanyaan tersebut.
“Aparat penegak hukum tentu memiliki kewenangan untuk melakukan penyelidikan apabila ditemukan indikasi pelanggaran hukum. Bukan sekadar memadamkan api setelah kebakaran terjadi, tetapi juga mengungkap siapa yang membuka lahan dengan cara membakar, siapa pemilik atau pengelola lahan, serta apa motif di balik munculnya kebakaran,” ungkapnya.
Sebab, masih menurut Romi, kalau setiap kali persoalan karhutla yang sama terus berulang, sementara pelaku tak kunjung terungkap, wajar kami bertanya, yang diburu apinya atau justru pelakunya?.
“Jangan sampai penanganan karhutla hanya berhenti pada rapat koordinasi, apel kesiapsiagaan, patroli, sosialisasi dan pemadaman. Semua itu penting, tetapi tanpa penegakan hukum yang nyata, persoalan karhutla akan terus menjadi lingkaran setan,” ucapnya.
Masyarakat sudah cukup lama menghirup asap. Mereka tidak membutuhkan terlalu banyak alasan. Yang dibutuhkan adalah udara bersih, kepastian perlindungan dan jawaban atas penyebab kebakaran.
“Lantas, apakah karhutla yang terus muncul ini hanya rangkaian kejadian biasa, atau jangan-jangan ada pihak yang melihat lahan terbakar sebagai “proyek” yang menguntungkan segelintir orang,” imbuhnya.
Romi berharap, pertanyaan itu memang harus dibuktikan, bukan sekadar dilemparkan sebagai tuduhan. Namun justru karena itulah penyelidikan yang serius menjadi penting.
“Jangan persoalan karhutla ini kemudian dianggap sebagai murka Sang Dewa Api yang datang entah dari mana. Karena api tidak punya kaki untuk berjalan sendiri dari satu lahan ke lahan lainnya,” cetus Romi.
Dirinya juga menegaskan, jika ada manusia yang menyalakan, maka manusia pula yang harus dicari.
Kini bola ada di tangan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pemilik maupun pengelola lahan, serta seluruh pihak terkait. Warga menunggu bukan hanya pernyataan bahwa karhutla sedang ditangani, tetapi bukti bahwa sumber masalah benar-benar dicari dan diputus.
“Sebab kalau api terus menyala, asap terus mengepul, titik panas terus berpindah, sementara pelaku tak pernah terlihat, maka pertanyaan masyarakat akan semakin keras. Sampai kapan Pulang Pisau harus menjadi korban asap, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari bencana ini,” pungkasnya. Kabartoday.id









