PALU, KABARTODAY.ID – Kasus dugaan pengancaman terhadap wartawan beberapa waktu lalu di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, mendapat sorotan dari praktisi hukum di daerah itu.
Praktisi Hukum Sulteng, Abd Razak, SH mengatakan polisi diminta serius mengusut adanya dugaan perbuatan pidana pengancaman terhadap jurnalis.
“ Pihak Kepolisian harus serius menangani kasus ini hingga tuntas,” ujar Abd Razak kepada media ini di Palu, Jumat (02/5/2023).
Menurut pria yang berprofesi sebgai advokad itu, bila dalam proses pengusutan ditemukan unsur pidana harus segera ditindak.
“ Penyidik harus sigap. Jika menemukan unsur pidana harus segera ditindak, agar ada efek jera terhadap siapapun orang yang dengan sengaja melakukan tindakan semena-mena kepada para pekerja pers. Sebab kerja wartawan itu dilindungi undang-undang,” tegasnya.
Sebelumnya salah seorang wartawan media online fokusrakyat.net bernama Jabir alias Anto mengaku diancam oleh sejumlah orang yang ditengarai merupakan kerabat dan antek dari Bupati Donggala, Kasman Lassa.
Tindakan pengancaman terjadi saat Jabir, dan sejumlah wartawan lainnya tengah melakukan kegiatan peliputan aksi demo di rumah jabatan Bupati, jalan Gunung Bale, Kecamatan Banawa Induk, Kabupten Donggala, Rabu (31/5/2023).
Tak terima dengan insiden yang menimpa dirinya, Jabir ditemani sejumlah rekan wartawan kemudian melaporkan peristiwa tersebut esok harinya, Kamis (01/5/2023) ke Polres Donggala, dengan bukti laporan polisi nomor: LP/B/43/VI/2023/SKPT/POLRES DONGGALA/POLDA SULAWESI TENGAH.
Kepada wartawan Jabir menceritakan kronologis peristiwa pengancaman dialaminya. bermula saat dirinya hendak melakukan peliputan sekaligus melakukan wawancara kepada sang Bupati di rumah jabatan, Rabu (31/5/2023).
Saat tiba di lokasi rujab, ia disambut oleh adik ipar bupati Kasman Lassa bernama Hamdi ditengah aksi berlangsung.
Namun, suasana berubah ketika Bupati Donggala melihat adanya spanduk bertuliskan “Tangkap Kasman Lassa”. Seketika menui reaksi kesal sang Bupati yang juga turut memancing emosi para kerabat dan simpatisan.
Bahkan emosi para kerabat serta simpatisan Bupati juga dilampiaskan kepada wartawan yang tengah meliput.
Seorang bernama Erwin, diketahui adalah kerabat Bupati, dengan nada emosi meneriaki wartawan agar tidak mengajukan pertanyaan kepada Bupati. Dan mengancam akan memukul jika masih mengajukan pertanyaan.
Kondisi semakin memanas ketika ipar Bupati, bernama Hamdi, menarik Jabir ke dalam area rujab. Melihat Jabir sudah ditarik, Bupati langsung mengeluarkan perintah agar Jabir diusir dari kompleks rumah jabatan.
Ditengah proses menarik Jabir keluar, terdengar suara seorang wanita bernama Rita ikut berseru meminta agar jabir dipukul karena Ia mencurigai wartawan memiliki hubungan dengan Heri yang pada saat itu tengah berdemo.
Ditengah situasi tersebut tutur Jabir, Ia diminta ajudan Bupati bernama Ramadan, untuk segera keluar meninggalkan lokasi rujab. Dan demi pertmbangan keselamatan diri, Jabir pun akhirnya keluar meninggalkan kompleks rujab.
Tak terima dengan perlakuan yang menimpa dirinya, besoknya Jabir, didampingi sejumlah rekan wartawan kemudian melaporkan insiden tersebut ke pihak kepolisian.
Terdapat tiga nama terlapor diketahui merupakan kerabat dan pendukung Bupati. Masing-masing, Hamdi (ipar Bupati), Erwin dan seorang wanita benama Rita. (RM)









