Tolitoli, Sulteng | Kabartoday.id – Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024, berbagai pengalaman unik dan tantangan yang dialami oleh petugas pemutakhiran data pemilih (pantarlih) saat melakukan pencocokan dan penelitian (coklit).
Pengalaman unik dan tantangan yang dihadapi oleh Pantarlih adalah melakukan coklit dikuburan.
Dari pantauan media dilapangan, Sebelum ke kuburan, terlihat Salah satu PPS Salugan kecamatan Lampasio kabupaten Tolitoli, petugas terlebih dahulu meminta izin kepada keluarga almarhum sebelum melakukan coklit di makam, hal ini dilakukan hanya untuk memastikan keakuratan data pemilih.
Meskipun ada rasa lucu dan penuh tantangan, petugas pantarlih tetap melaksanakan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab demi kesuksesan pemilihan bupati dan wakil bupati Tolitoli November mendatang.
“Kami berinisiatif dan sengaja datang ke makam, karena di sana ada tanggal, bulan, dan tahun kematiannya. jadi secara data untuk di aplikasi coklit harus ada bukti foto akta kematian, jadi kami hanya mencocokkan data dengan cara mengambil foto dibatu nisan,” kata petugas anggota PPS saat berbicara dengan keluarga almarhum.
Proses coklit di kuburan berlangsung sekitar 30 hingga 1 jam semua tergantung dari jarak dan kondisi jalan. Ketika tiba di areal pemakaman yang seperti disampaikan oleh pihak keluarga, petugas harus mencari makam yang dituju.
Setelah menemukan makam, petugas mencocokkan data di daftar pemilih tetap (DPT) dengan informasi yang tertera di batu nisan, seperti tanggal, bulan, dan tahun kematian. Data tersebut kemudian diunggah ke aplikasi E-Coklit disertai foto batu nisan sebagai bukti.
Upaya yang dilakukan ini mencocokkan data pemilih dan memastikan bahwa data kematian valid, sehingga nama yang telah dinyatakan meninggal dunia tidak lagi masukan dalam DPT.
“Tentu ada rasa takut, pahtarlih kami dilapangan datang biasanya tidak menentukan jam, biasa pagi, siang sore bahkan malam, Coklik SOP Pantarlih memang mengharuskan data yang valid,” Tutupnya. ***









