Tolitoli, Sulteng | Kabartoday.id – Harga beras di berbagai wilayah Indonesia terus mengalami lonjakan, dalam mengantisipasi kenaikan harga beras, terkait dengan hal itu semua, Bulog Tolitoli hadir bersama mitra dalam menyalurkan bantuan beras SPHP sebagai bentuk antisipasi menekan laju harga beras yang ada di wilayah Kerja Perum Bulog Buol – Tolitioli.
Pimpinan Cabang Bulog Tolitoli Zahnaz Abdeli menyampaikan, jika ada masyarakat yang melihat atau menemukan mitra kerja perum BULOG yang melakukan penjualan beras SPHP dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) jangan takut untuk melaporkannya ke Kantor Cabang Bulog.
“Karena tujuan adanya beras subsidi (SPHP) ini untuk mencegah terjadinya Lonjakan harga beras. Penjualan beras subsidi ini difokuskan di kepada mitra kerja kami yang sudah terdaftar di wilayah Buol-Tolitoli,” katanya, Kamis (22/1/2025).
Lanjut pimpina Cabang Bulog Buol Tolitoli itu mengatakan, untuk jumlah mitra Bulog Buol dan Tolitoli sampai saat ada 140 Rumah Pangan Kita yang aktif. Sementara untuk semua mitra yang ada, dalam sebulan kami dari Perum Bulog Buol Tolitoli bisa menyalurkan beras subsidi mencapai 150 hingga 200 Ton.
Zahnaz Abdeli mengatakan, untuk beras bersubsidi pemerintah ini SPHP, pihaknya menjual sesuai ketentuan pemerintah. Ia menegaskan bahwa beras SPHP yang dijual ke masyarakat itu tidak melebihi harga tertinggi Rp. 12.500 per kilogram melalui mitra Bulog.
“Jadi mitra Bulog Buol Tolitoli itu tidak boleh lagi menjual berasnya ke mitra atau warung lain lagi, tapi harus dijual langsung ke masyarakat harga eceran tertinggi Rp. 12.500/Kg, hal tersebut dikarenakan penyaluran beras SPHP diawasi dan di monitor oleh Satgas Pangan dan Dinas terkait.” ungkapnya.
“Jadi masyarakat juga perlu tahu bahwa harga beras SPHP itu Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 62.500 per 5 kilogram. Jadi jika masyarakat menemukan ada mitra Bulog yang menjual beras SPHP diatas HET agar dapat melapor ke kantor Cabang Bulog Tolitoli sehingga kami bisa langsung menindak lanjuti,” ujarnya.
Zahnaz Abdeli menegaskan, jika ada mitra BULOG yang di kabupaten Buol dan Tolitoli yang coba coba bermain harga, (menjual beras SPHP diatas HET), tentu kami dari pihak BULOG akan memberikan sanksi tegas kepada mereka (Mitra).
“Pasti kita akan berikan peringatan dan sanksi kepada mitra yang nakal, dan Sanksi yang paling keras kemitraanya akan dicabut atau kita tak akan menyuplai beras lagi mitra kita,” tegas, Zahnaz Abdeli.
Untuk itu katanya, masyarakat Kabupaten Buol dan Tolitoli agar jangan takut atau sungkan untuk melaporkan adanya mitra Bulog yang menjual beras SPHP diatas HET. “Saya juga berharap teman teman awak media juga bisa membantu kami mengawasi Mitra kami dilapangan jika ada mitra maupun pegawai BULOG yang berani untuk main main segera laporkan,” Harapnya.
“Nanti juga dari BULOG akan sebarkan nomor pengaduan,” tuturnya.
Selain dari itu kata Orang nomor satu di BULOG Tolitoli, nantinya pihaknya juga akan mengambil langkah untuk mengecek mitra-mitra yang ada saat ini apakah sudah sesuai menjual beras SPHP ini sesuai HET atau tidak.
“Nanti kita mau cek disemua kemitraan kami, mulai dari spanduk penjualan beras SPHP itu sendiri, apakah mereka pasang atau tidak. Karena di spanduk itu wajib dipasang agar masyarakat tahu penjualan beras SPHP itu harus sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET),” ungkapnya.
Lagi, Zahnaz menjelaskan, untuk Bulog Tolitoli jika ingin menjual beras subsidi ini ke masyarakat ada salurannya yaitu melalui Satgas dan biasanya turun langsung ke masyarakat dengan kegiatan pasar murah.
“Misalnya kita menjual beras langsung ke masyarakat itu melalui operasi pasar,” tuturnya.
Diakhir ia menyampaikan, karena beras SPHP ini telah disubsidi oleh pemerintah, untuk beras SPHP ini diperketat lagi penyalurannya kepada para mitra Bulog.
“Jadi tahun 2025 ini, kita “BULOG” tidak lagi ada menjual beras SPHP secara langsung ke masyarakat secara luas, tapi kita fokuskan untuk masyarakat diluar, itupun penjulannya jika ada permintaan dari pemerintah daerah, Provinsi atau pusat untuk mengelar Operasi pasar murah,” pungkasnya. ***









